Embarkasi



Bis memasuki embarkasi pukul 07.30, pertama kalinya rempong bawa bawaan sendiri. Mau minta minta tolong siapa, semua orang membawa barang bawaan sama banyaknya. Tas tentengan, tas passport dan tas berisi makanan. Di embarkasi, jamaah haji langsung diarahkan untuk masuk ke dalam aula “kedatangan” begitulah istilahnya. 

Di pintu masuk, jamaah haji akan dibagikan masker, 30pc alias segundukan, botol semprot 500ml dan obat-obatan (oralit, salep untuk pegal). Agak repot akhirnya ketika masuk, karena selain nenteng tas jinjing, dan keresek perbekalan, saya  memegang bungkusan yang berisi masker, botol dan obat-obatan tersebut.
TIPS: sediakan tas lipat/ tas perbekalan dengan spase yang mencukupi untuk menampung fasilitas yang dibagikan tersebut. Perbekalan pun jangan terlalu banyak, karena teman sekamar pun akan saling berbagi makanan. Membawa buah-buahan lebih disarankan untuk memperlancar BAB keesokan harinya.* Jamaah haji akan menunggu cukup lama, sekitar 15-30 menit. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk merapikan barang bawaan di dalam tas jinjing, dan lalu akan beranjak ke kamar. Simplenya barang bawaan akan memudahkan mobilisasi.


Selain fasilitas kesehatan, jamaah haji akan diberikan lembaran peta. Simpan baik-baik dan di waktu senggang anda bisa membacanya. Percayalah itu sangat bermanfaat. Saya sendiri termasuk yang membaca peta 2 hari sebelum pulang ke Indonesia, J padahal dengan membaca itu dari awal, mobilitas di Mekah atau Madinah akan jauh lebih mudah. Selain peta, akan dibagikan juga buku Panduan Praktis Ibadah Haji.
Pengarahan dimulai, pembawa acara akan mengenalan petugas kloter, petugas kesehatan, dan pembimbing haji. Jamaah haji juga akan dibagikan kartu nomor kamar dan fasilitas berinfak. Selesai penyambutan, jamah haji keluar aula dan langsung periksa kesehatan.




Keluar pintu, siapkan buku kesehatan, barcode di dalamnya akan discan dan jamaah haji akan diberikan gelang yang menunjukan level kesehatan. Merah, kuning dan tanpa gelang sama sekali. Merah untuk risti, kuning adalah gelang yang menunjukan jamah haji memiliki penyakit tertentu yang perlu diwaspadai. Untuk jamaah haji wanita usia subur akan langsung diperiksa urin. Sebelum ke kamar mandi, tas-tas disimpan di luar ruangan pemeriksaan, tenang ada penjaganya ko, tidak akan hilang (tas kecil selalu diselempangkan tapi).
Pemeriksaan pertama diawali dengan pertanyaan haid terakhir, dan seluruh tubuh digeledah krn dikhawatirkan membawa urin, atau dikhawatirkan sedang hamil. Rada sakit juga nih diteken-teken petugas2 wanita yang cukup tegas. Selesai geledah badan, masuk ke ruangan berikutnya yakni kamar mandi. Kaget juga diminta untuk buang air kecil di hadapan petugas dengan pintu terbuka. Buang air kecil dengan santai saja….gelas kecil akan diberikan untuk menampung air seni. 

Selesai dari kamar mandi  masuk ke ruangan lain untuk buku kesehatan kita di cap oleh petugas, selanjutnya angkut tas-tas itu sendiri ke kamar. Usia 30an akan dapat di lantai 4, selamat naik tangga, sedangkan usia risti di lantai dasar. Kamar akan terdiri dari 6 ranjang bertingkat, sehingga kapasitas  kamar adalah 12 orang. Ranjang ini, ranjang kayu memang udah agak goyang-goyang  tapi sangat nyaman untuk beristirahat dalam kondisi lelah.

Makan pagi, makan siang, makan malam, makan dini hari sebelum keberangkatan tersedia di ruang makan setiap lantai. Untuk kepentingan bersih-bersih, setiap lantai tersedia 3 kamar mandi untuk laki-laki dan 3 kamar mandi untuk perempuan, belajar bersabar ya...

Sore hari, kami dipanggil ke aula kembali untuk mendapatkan beberapa perlengkapan, dan menatanya di tas keci.

Petugas mulai membuka acara dan meminta kami untuk fokus, terlihat tumpukan buku paspor, gelang logam, amplop di meja para petugas di depan. Paspor yang berbulan-bulan lalu dibuat akhirnya hari itu dipegang juga. Oh ini buku paspornya ternyata, berbagai lembaran diselipkan di dalamnya. Satu per satu lembaran di bacakan dan diperagakan untuk disimpan di sini, di sana, tempel sini tempel sana. Rada banyak eung jadi lupa, diinget-inget dulu ya, oh ya salah satunya visa yang biasanya menjadi lembar yang paling dinanti pun, karena biasanya cuma liat di situs aja, baru ketemu eeeh fotokopiannya juga cuman, sudah tertempel rapi di buku paspor. Ada juga tiket pesawat pergi, pulang (aamiin), lembar keberangkatan yang dikumpulkan ke petugas, ada juga stiker no bis per kloter dan tempat duduk yang selama di Indonesia sampai nyampe Saudi apalin tuh no bisnya, karena ga akan berubah.
Al hasil ini nih hasil tempelan-tempelannya di tas selempangnya. Ga kalah reunceum juga buku paspornya loh.


Gelang juga dibagikan, ada namanya loh, jadi inget cincin nikah. Gelangnya keras, susah banget di pasin tangan, jadi minta petugas deh bantuin pasang. Selain gelang logam, dibagi jug uang saku, yeay...3 lembar saja tapi 500 real lho, jadi kira-kira 5 juta kurang, langsung aja disimpen di tempat yang aman. Selain itu, dapet juga uang penggantian pembuatan paspor 400ribuan, lumayan lah buat nambah uang jajan. Setelah pembagian selesai, kami langsung ke kamar lagi untuk beristirahat....siap-siap untuk berangkat 8 jaman lagi, siap-siap membereskan segala perlengkapan, mulai singkirkan wewangian seperti tisu, pantyline, sabun, minyak angin dari tas-tas yang mudah dijangkau karena di penerbangan nanti mulai miqot.

 Mendekati jam keberangkatan kami bersiap mandi besar, memakai pakaian yang akan digunakan untuk ihram, bapak-bapak sudah menyiapkan kain ihram di tas jinjinganya, loh kemana koper, kan koper udah duluan di pesawat di banding kita.


Tas selempang selalu diselempangkan karena paspor dll dicek. Tas jinjingan clear kan dari cairan berlebihan, waktu itu saya bawa air basa, terpaksa disedekahkan ke petugas karena tidak boleh dibawa. Tas jinjing juga akan masuk mesin periksa di aula keberangkatan, jadi ga dilakukan dibandara. Benda tajam jangan sampai ada di tas jinjing, lebih aman di koper karena akan digeledah. Selesai pemeriksaan kami menuju parkiran, dan langsung mencari nomor bis yang sudah dihapalkan berikut tempat duduknya. Beristirahat cukup lama juga di bis yang menuju bandara, masuk ke bandara, jalurnya begitu berliku dan langsung mendekati parkir pesawat, tidak masuk dulu ke gedungnya. Waah pesawatnya besaaaar sekali, kali pertama penerbangan ke luar negeri kan, jadi baru tau pesawat sebesar ituh. 
Tapi rada lama untuk bisa naik ke pesawat, karena dalam 1 kloter kan sekitar 400an orang, sehingga calon jamaah haji masuk bertahap.

Sambil menunggu kami shalat subuh di aspal bandara, saya masih punya wudhu, sehingga tidak perlu antri di kamar mandi darurat yang serba terbatas, sempat masuk bis lagi setelah shalat dan menunggu panggilan. Setelah dipanggil, kami bergegas naik ke pesawat, dan tentu sudah menghafal tempat duduk, memperlihatkan kepada petugas dan petugas eh pramugara dan pramugari langsung mengarahkan ke tempat duduk. Menunggu di dalam pesawat cukup lama, sekitar 30 menit....kami bersiap merapikan barang bawaan, di kabin, dan tas selempang di pangkuan, memasang seat belt, dan sama-sama berdoa, pesawat mulai berjalan perlahan, semakin kencang, dan bergemuruh dan akhirnya lepas landas. Saya ngantuk berat waktu itu...jadi antara lepas landas dan tidak agak lupa, tapi memang berasa terbang. Alhamdulillah. 







0 komentar:

Posting Komentar

Recent

Flickr

Comments

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Popular Posts

Popular Posts